3 Tipe Orang Berpuasa, Kalian Tipe Yang Mana?

Tanpa dirasa, Ramadhan 2020 sudah memasuki hari kesepuluh yang terasa semakin dekat dengan hari raya Idul Fitri. Tinggal beberapa hari lagi menuju kemenangan. Namun masih disayangkan jika selama sepuluh hari ini kita masih belum menjadi pribadi yang lebih baik lagi alias masih stuck gitu-gitu aja.

Dengan waktu yang hanya diberikan selama 30 hari dalam setahun di bulan ramadhan, tiap muslim mestinya harus terus meningkatkan kualitas dirinya dalam beribadah. Namun seiring waktu, ada saja yang menyebabkan ibadah justru makin tak semangat untuk menjalaninya.

Misal sehabis sahur lekas kembali tidur, padahal subuh hanya tinggal hitungan menit lagi. Alasannya karena kantuk yang tak bisa diajak kompromi. Tak sadar yang semestinya kita tetap harus bersyukur karena masih diperlihatkan mentari pagi dan masih bisa menghirup udara segar di pagi hari, kadang malah menyalahkan waktu yang berlalu sehingga tak dapat melaksanakan subuh tepat waktu.

Daripada menyalahkan waktu yang berlalu, sedang kita tidak tahu apakah puasa yang dijalani ini sudah sesuai dengan kriteria yang Allah SWT. perintahkan? Karena ada 3 kriteria tingkatan bagi orang yang berpuasa.

1. Puasa orang awam, yaitu sebatas menahan perut (lapar) dan kemaluan dari keinginan syahwatnya. Tingkatan puasa ini menurut Imam Al-Ghazali adalah tingkatan puasa yang paling rendah. Karena, ia hanya sekedar menahan lapar dan dahaga. Hal ini telah dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw dengan sabdanya: “banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala berpuasa, yang ia dapatkan hanya lapar dan dahaga.”

2. Puasa orang khusus, yaitu mampu menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan dari segala perbuatan dosa. Menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri. Menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran. Menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik. Mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan. Hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (raja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.

3. Puasa orang yang lebih khusus, yaitu puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. (menahan diri dari keinginan-keingan yang jelek, yang dapat menjauhkan diri dari Allah). Menurut Al-Ghazali, tingkatan puasa yang ketiga ini adalah tingkatan puasanya para Nabi, Shiddiqqiin, dan Muqarrabin.

“Puasa orang awam yaitu sebatas menahan perut dan kemaluan dari keinginan syahwatnya. Sedangkan puasa orang khusus menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan dari segala perbuatan dosa. Sedangkan puasa orang yang lebih khusus yaitu puasanya hati dari keinginan-keinginan yang hina, serta pikiran-pikiran yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah serta menahannya secara total dari segala sesuatu selain Allah Ta’ala.” [Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 45]

Lalu sudah berada dimana posisi tingkatan puasa kita selama ini?

Maksud dari penggolongan 3 tingkatan ini menurut Imam Al-Ghazali adalah supaya kita dapat meningkatkan kualitas ibadah di setiap berpuasa ramadhan. Jika hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, diluaran sana sudah banyak orang yang harus menahan lapar dan puasa tanpa ada niat puasa.

Oleh karena itu, di momen yang jarang kita temui selama setahun ini, yuk kita bangun lagi semangat dalam beribadah. Jangan sampai kendor!

(yas)