Penyandang Disabilitas Juga Manusia

Tidak semua manusia diciptakan dengan kondisi fisik atau mental yang sempurna. Ada sebagian orang yang memiliki kekurangan, seperti tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara, keterbelakangan mental, dan lain sebagainya. Ada juga yang dilahirkan sempurna, akan tetapi karena peristiwa tertentu seperti bencana alam dan kecelakaan menyebabkan ia memiliki kekurangan fisik atau mental. Kekurangan tersebut menyebabkan seseorang memiliki keterbatasan dalam menjalani kehidupan, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini menyebabkan sebagian dari mereka menjadi minder atau rendah diri dalam pergaulan. Apalagi jika mendapat sebutan orang cacat, membuat mereka semakin tidak percaya diri. Untuk itu, penggunaan istilah penyandang cacat bagi orang yang memiliki kekurangan fisik atau mental sudah mulai ditinggalkan. Sekarang, orang lebih sering menggunakan istilah difabel atau disabilitas.

Di Indonesia, regulasi mengenai kaum disabilitas telah diatur dalam Undang-Undang (UU) No. 8 Tahun 2016. UU ini menggantikan UU no. 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat. Pembaharuan UU ini diantaranya terjadi karena adanya perubahan cara pandang terhadap kaum disabilitas. Jika dalam UU no.4/1997, kaum difabel lebih banyak dianggap sebagai objek yang perlu belas kasihan, maka dalam UU yang baru, kaum disabilitas diakui keberadaannya dan memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya.

Alhamdulillah Mabi Foundation telah menyelesaikan progam kegiatan santunan dengan adik-adik disabilitas SLBN 4 Jakarta. Dengan diadakannya acara ini tentunya kami berharap agar pemerintah lebih memperhatikan penyandang disabilitas dan melaksanakan kebijakan social yang adil dan serta merata. Elemen masyarakat juga harus punya rasa empati dan membuka diri untuk menerima serta membantu kaum difabel. Saling menghargai dan tenggang rasa merupakan hal yang wajib ditanamkan setiap individu, dan hilangkan batasan bertujuan untuk mengubah persepsi masyarakat terhadapa penyandang disabilitas. [taa]